Easy Going

Selasa, 05 Februari 2013

Pembelajaran Usia Dini

Batu pijak pertama untuk membangun karakter ialah pembelajaran. Pembelajaran yang bukan hanya dimulai sejak duduk di bangku sekolah, melainkan semenjak individu menjadi partisipan akif kehidupan.
Proses pembelajaran membentuk seseorang menjadi lebih manusiawi dan berujung pada hasil pribadi yang mandiri dan dewasa. Pembelajaran bukan soal daya eksplor diri untuk memperoleh pengetahuan sebanyak mungkin, juga bukan soal pertahanan argumen melalui pengetahuan terkait. Pembelajaran menggiring pengetahuan pada individu untuk diwujudkan secara konkret dalam kehidupan. Pembelajaran selalu berangkat dari hal yang paling sederhana. Individu memulainya dari masa dini atau kanak-kanak. Secara umum, beberapa hal yang menjadi ciri pembelajaran pada masa kanak-kanak diantaranya berkaitan soal kemampuan yang mencakup tiga hal: pengetahuan (know-what, knowledge), sikap (know-why, attitude), dan keterampilan (know-how, skill).
Anak  memiliki pengetahuan terbatas dan berbanding terbalik dengan daya kuriusitasnya. Hal ini ditandai dengan ekspresi kuriusitas yang tinggi dan pertanyaan-pertanyaan yang terkadang di luar nalar logis. Pengetahuan yang dimiliki masih amat terbatas, pengetahuan mengenai alam, sesama, dan bahkan dirinya sendiri. Selain pengetahuan, masa pembelajaran kanak-kanak berkaitan dengan sikap yang dibangun. Umumnya, kanak-kanak belum dapat menentukan sikap secara jelas. Kemampuan untuk mengkritisi berbagai hal masih dalam taraf pengenalan postif dan negatif dan cenderung untuk melakukan apa yang menjadi kesenangannya. Penanda lain pada pembelajaran dini terdapat pada kemampuan. Kemampuan individu pada masa kanak-kanak belum terkelompok secara jelas. Umumnya, individu hanya mengembangkan kemampuan secara umum seperti berlari, berteriak, memanjat, memukul, dan tindakan lainnya.
Sebelum memasuki masa pendidikan secara formal, kanak-kanak memperoleh pembelajarannya melalui pengalaman. Pengalaman dapat dikatakan sebagai pendidik pertama dan pengetahuan alami yang mengakar dalam individu. Sementara, orang tua, lingkungan, dan faktor eksternal lainnya hanya sebagai pendukung. Dalam pandangannya, Sokrates menegaskan bahwa faktor eksternal hanyalah bidan yang membantu ibu (kanak-kanak) untuk melahirkan bayi-kebenaran.[1] Benih pemahaman dan pengetahuan secara tak sadar memang sudah terkandung dalam diri si anak.
Perkembangan selanjutnya, pembelajaran dini ini membawa konsekuensi dalam kerangka menjadi manusia dewasa dan mandiri. Pembelajaran pada masa dewasa ditandai dengan pemberontakan dan gejala keraguan. Individu secara bebas menolak pendiktean dan pemaksaan kehendak dari apa pun yang berada di luar dirinya. Umumnya pula, individu dewasa selalu mencurigai, meragukan, dan bahkan tidak menerima begitu saja segala pengetahuan dan argumentasi di luar dirinya.
Pembentukan karakter individu dewasa sangat ditentukan oleh pembelajaran sejak dini. Pada dasarnya, benih pengetahuan sudah terkandung dalam rahim pikiran individu. Para pendidik sejati tidak serta merta mentransfer benih-benih tersebut, tetapi lebih dari itu, pendidik membantu individu untuk menemukan sendiri dan merasakan aura pengetahuan yang ia temukan sendiri.

Sumber Pustaka:
Harefa, Andrias. 2000. Menjadi Manusia Pembelajar (On Becoming A Learner). Jakarta:    Penerbit Kompas
Bertens, K. 1999. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius



[1] Sokrates (470-399 SM), filsuf Athena, guru dari Plato yang memperkenalkan metode maieutike tekhne (seni kebidanan). Metode ini hendak menyatakan bahwa Sokrates sendiri (dalam hal ini pengajar) tidak menyampaikan pengetahuan tetapi melalui pertanyaan-pertanyaannya, ia membidani pengetahuan yang terdapat dalam jiwa orang lain (Lih. K. Bertens:Sejarah Filsafat Yunani, hlm. 106).

0 comments:

Posting Komentar