Verus Amicus Laetus Et Tristis Est

Sahabat sejati selalu ada bersama sahabatnya di kala senang maupun sedih (Latin).

Saat Kita Membuka Mata...

Matahari itu berusaha menyelusup masuk merambah dedaunan hutan.

Tetap Bersiul di Kala Sepi...

Hirup pikuk dunia ini semakin menjauhkan manusia dari keheningan dan membuat segalanya kering.

Sore Kotak-Kotak...

Entitas itu kotak, selalu ada pengkotakan dan selalu ada perbedaan.

Serumit Orang Kita Berpikir...

Terlalu banyak yang dipikirkan, terlalu banyak yang tak terselesaikan.

Melambai dalam Keburaman

Kita masih punya harapan akan masa depan walaupun segalanya tampak buram.

DIA

I want to write your name on that coast :D

Easy Going

Rabu, 01 Mei 2013

Pembabakan Sejarah Filsafat Barat


Pembabakan sejarah filsafat barat dapat diuraikan secara umum sebagai berikut:
Filsafat Barat terbagi atas:
1.      Filsafat Klasik
Periode: 6SM-3M
Tokoh: Sokrates
Tema:Alam, Kebenaran hidup, Etika, Moral, Politik

2.      Filsafat Abad Pertengahan
Periode: 3M-14M (atau ada pula yang menetapkan 1M-14M)
Tokoh: terbagi atas dua kelompok.
Patristik: Agustinus
Skolastik: Thomas Aquinas
Tema:Religiusitas, semua hal dikaitkan dengan ajaran Kristiani

3.      Filsafat Moderen
Periode: 15M-19M
Filsafat moderen terbagi atas 3 pembabakan:
·         Renaissans
Periode: 15M-17M
Tokoh: Rene Descartes
Tema:Rasio sebagai dasar kebenaran
·         Aufklarung (Enlightment-Pencerahan)
Periode: 18M
Tokoh: Emmanuel Kant
Tema: Penggabungan antara Rasio dengan Empiris
·         Romantisme
Periode: 18M paruh ke-2
Tokoh:Hegel
Tema: Kritik atas Aufklarung


4.      Filsafat Kontemporer
Periode:19M-...
Tokoh: Heidegger
Tema: Cabang dari ilmu filsafat mulai berkembang (lahirnya eksistensialisme dst.)

Penjabaran umum mengenai Pembabakan dalam Filsafat Moderen
Pembabakan dalam filsafat moderen terbagi atas tiga babak yakni Renaissans, Aufklarung, dan Romantisme. Setiap pembagian ditandai dengan tokoh, waktu, dan tema yang berbeda.

Renaissans
v  Secara etimologi, Renaissans berarti kelahiran kembali.
v  Secara substansial, Renaissans berarti: Cultural Movement-Pergerakan kultural dan Intelektual yang hendak membangkitkan kembali sumber-sumber kultural klasik yang ditulis dalam bahasa Yunani kuno.
v  Masa ini ditandai dengan:
o   Gairah membaca kembali sumber-sumber klasik yang dalam bahasa Latin dan              Yunani.
o   Perkembangan pesat dalam berbagai bidang seperti:
a. Seni, para pelopornya seperti Michaelangelo, Leonardo Da vinci.
b. Agama, para pelopor protestanisme seperti Martin Luther, John Calvin.
c. Ilmu pengetahuan, para pelopornya seperti Galileo Galilei.
d. Dalam bidang politik para pelopor sepert Niccolo Machiavelli, John Locke,  Thomas Hobbes, Vasco da Gama.
Renaisaans berawal dari Italia, lebih tepatnya Florence dari keluarga Medici. Dari Italia barulah menyebar ke seluruh daratan Eropa.
Perlu diketahui bahwa Renaissans merupakan jembatan dari Filsafat Abad Pertengahan menuju Filsafat Kontemporer.

Pokok-pokok pemikiran beberapa tokoh filsafat moderen.
1.      Niccolo Machiavelli
Machiavelli merupakan salah satu pelopor dalam bidang politik. Karyanya yang terkenal berjudul Sang Penguasa. Secara garis besar hal yang ingin ditekankan ialah hendaknya para penguasa memiliki standar ganda, satu untuk dirinya sendiri dan satu untuk rakyat. Sang penguasa dapat cerdik seperti rubah dalam mengenali perangkap dan berani seperti singa dalam mengusir penyerang. Karya lainnya pula ialah Deus Homini Deus berisi hubungan antarbangsa dan Homo Homini Lupus berisi hubungan antarmanusia.

2.      Thomas Hobbes
Gagasan politiknya menekankan secara jelas mengenai kepemilikan. Selain itu pada manusia hanyalah ada kecurigaan dan hidup bersama pasti tidak pernah bisa damai. Kecurigaan antarmanusia bisa dilihat dari contoh keseharian. Adanya pagar pada rumah menjadi tanda bahwa sang pemilik rumah pasti menaruh rasa curiga terhadap orang di sekitar. Dari pagar menuju ke pintu dan dinding. Sesama anggota rumah pun menaruh rasa curiga, dalam rumah masih terbagi dalam kamar-kamar, dan ada laci-laci pribadi. Adanya rasa curiga dan privasi yang tidak ingin diketahui orang lain.

3.      Rene Descartes 
Rene Descartes menjadi penanda dari zaman filsafat moderen. Ia pun dijuluki Bapak Filsafat Moderen. Pemikirannya didasarkan pada kekuatan rasio dan terkenal dengan istilah latin Cogito Ergo Sum, yang berarti ‘Saya berpikir maka saya ada’. Latar belakang pemikirannya secara umum dapat dijabarkan sebagai berikut:
v  Ia mulai meragukan segala yang ada maupun realita. Ia mulai meragukan aktifitas tertentu seperti mengajar. Apakah saya sungguh sedang mengajar (kehadirannya sungguh nyata untuk mengajar)? Atau saya sedang bermimpi tentang mengajar.
v  Anggapan ini datang dari pihak yang membuatnya menjadi ragu-ragu, pihak ini ia sebut Evil Genius, membuat seolah-olah menjadi ada, menjadi realita padahal sebenarnya tidak atau sebaliknya. Hal ini membuatnya menjadi meragukan segala sesuatu.
v  Pemecahannya berujung pada pernyataan bahwa ‘Dia yang ragu-ragu akan segala sesuatu itu pasti ada’. Muncullah pernyataan dia yang terkenal itu, saya berpikir maka saya ada.
Konsekuensi dari pemikiran ini yakni Metode Descartes. Contoh yang ia gambarkan adalah segitiga itu ada atau tidak? Segita selama ini adalah berbagai materi yang dibentuk segitiga. Kayu yang dibentuk segitiga. Kertas yang digambar segita. Sementara segitiga itu sendiri tidak ada dan tidak nyata. Ia memakai metode ini dalam kerangka pembuktian eksistensi Allah.
Jaminan kebenaran logis Descartes adalah Allah, rasio yang dapat dipercaya. Hal ini disebabkan:
a. Eksistensi Allah digambarkan seperti contoh pada konsep segitiga di atas.
b. Allah, jauh sebelumnya telah menanamkan ide tentang Allah pada manusia.
Rene Descartes juga memaparkan pemikirannya mengenai dualisme.
·         Manusia terdiri atas dua unsur yang utama, yaitu res extensa yang berarti kebertubuhan atau perihal fisik (body) pada manusia dan res cogitan (mind) yang berari pikiran atau berkaitan dengan berpikir.
·         Pembagian itu bersifat rasional dikotonomis, yang selanjutnya body and mind akan membentuk psyche sementar mind lebih cenderung pada pneuma.
·         Menurut Descartes, yang kekal itu adalah Roh (pneuma). Roh masuk ke dalam tubuh maka terciptalah juga jiwa (psyche).
·         Konsenkuensi dari dualisme ialah pemikiran selanjutnya akan selalu berkutat di permasalahan mind and body. Bagi kehidupan manusia, Descartes telah memberi batasan yang sangat jelas. Orang yang sakit badan/fisik disembuhkan dengan dokter/tenaga medis. Untuk sakit jiwa ialah psikiater, dan untuk sakit roh barulah disembuhkan dengan rohaniwan. Ketiga hal ini tidak dapat dipertukarkan.

Aufklarung-The Age of Reason (zaman pencerahan)
·         Definisi secara substansial ialah gerakan kultural dan intelektual yang menekankan keutamaan akal budi sebagai dasar dari kebenaran dan melepaskan segala sesuatu yang tidak terkait dengan akal budi atau rasio. Gerakan ini berlangsung selama 40 tahun di Jerman.
·         Beberapa pokok pemikiran para tokoh aufklarung adalah sebagai berikut:

1.      Immanuel Kant
Pokok pemikiran Kant adalah usahanya untuk mensintesiskan pemikiran Descartes (yang mengutamakan rasio sebagai penjamin kebenaran) dengan pemikiran David Hume (yang mengutamakan pengalaman/empirik sebagai penjamin kebenaran). Metode Kant yang terkenal ialah: Metode Sintetik Apriori.
 Beberapa poin penting mengenai metode ini ialah:
·         Unsur-unsur apriori terdapat dalam pengetahuan dan unsur-unsur empiris terdapat dalam realita.
·         Pertemuan antara rasio dengan empirik akan menghasilkan kebenaran.
·         Kebenaran ditinjau dari dua sisi, Subjek sebagai rasio dan Objek sebagai empirik atau realita.

Selain itu, Kant juga menekankan mengenai kategori. Perbedaan fenomena didasarkan pada bentuk dan waktu. Bagaimana membedakan kayu dengan bangku kayu?tentu secara materi adalah sama, namun secara bentuk itu berbeda. Kaitan antara substansi dan forma sangat ditekankan.

Romantisme
·         Latar belakang muncul aliran ini ialah penekanan yang kuat terhadap rasio sebagai dasar dari kebenaran.
·         Romantisme merupakan kritik terhadap Aufklarung.
·     Kebenaran tidak hanya didasarkan pada intektual tetapi juga mempertimbangkan unsur perasaan sebagai dasar kebenaran.
·       Para tokoh idealisme Jerman termasuk dalam masa ini, mereka diantaranya ialah Fichte, Schelling, dan Hegel. Romantisme berpuncak pada Hegel.

Pokok pemikiran tokoh Romantisme
1.      Hegel
Terkenal dengan pernyataannya yang berbunyi ‘Yang nyata itu rasional dan yang rasional itu nyata.’ Dasar dari pemikirannya bahwa segala sesuatu saling terkait, tidak ada sesuatu pun yang terpisah.
Kenyataan umum itu adalah Ide Absolut. Pandangannya terbagi atas ide mengenai Roh Absolut dan Roh Terbatas.
Roh Absolut ini mengubah dari keadaan abstrak universal menuju konkret universal. Hal ini pun berkaitan dengan Dialetik mengenai tesis dan antitesis yang menghasilkan sintesis.
Contoh tesis: Ada (being), antitesis: Tidak ada (nothing), dan sintesisnya: Menjadi (becoming). Contoh lain, tesis: seni, antitesis: agama, dan sintesis: filsafat (segalanya pun akan bermuara pada filsafat).

Perantara Menuju Filsafat Kontemporer
Tema yang diajukan ialah Allah, alam, dan manusia (materialis).
Tokoh-tokoh yang menjadi perantara tersebut diantaranya:
1.      Feuerbach
Idenya mengenai Allah cukup keras. Baginya, Allah merupakan hasil dari proyeksi manusia. Allah itu tidak ada. Ide mengenai Allah muncul ketika manusia butuh kebaikan, maka muncullah ide tentang subjek yang Maha baik itu, yaitu Allah. Secara sederhana ia hendak mengatakan bahwa Teologi itu merupakan proyeksi dari Antropologi.

2.      Karl Marx
gagasannya mengenai Allah tertuang dalam pernyataanya yakni agama ialah candu masyarkat. Orang pergi ke Gereja dan sepulangnya dari sana, perubahan akan hidup yang sejahtera pun tidak terjadi. Agama hanya menina-bobokan manusia, tidak mendorong adanya perubahaan akan kenyataan. Agama menjadikan manusia tidak sadar akan realitasnya, membawanya hanya hidup dalam angan-angan.
Kritiknya terhadap kaum kapitalis ialah manusia menjadi terasing akan hasil karyanya sendiri. Hanya para pemilik modal-lah yang bisa menikmati hasil kerja dari manusia itu.
  
3.      Nietzsche
Idenya yang cukup keras yakni kehendak untuk berkuasa (will to power). Dalam gagasan tersebut, ia menyatakan Allah itu sudah mati/konsep nihilisme. Hal ini berangkat dari konsep Allah sebagai nilai tertinggi pasti mempunyai nilai turunan. Nilai-nilai turunan itu adalah manusia, manusia malah melawan dan menghancurkan nilai-nilai tersebut. Konsekuensi logisnya ialah Allah sebagai nilai tertinggi sudah mati. Nietzsche beranggapan manusia harus keluar dan tidak bergantung dari Allah, manusia power-uber man.

Filsafat Kontemporer
Filsafat Kontemporer terbagi atas:
·         Eksistensialisme
Berkembang di daratan Eropa
Tokoh-tokohnya seperti: Heidegger, Kierkegaard

·         Fenomenologi
Tokohnya seperti: Husserl
Baik eksistensialisme maupun fenomenologi, keduanya disebut pula Filsafat Kontinental. Filsafat ini merupakan imbangan dari filsafat analitik.

·         Positivisme
Tokohnya seperti: Auguste Comte

·         Pragmatisme
Tokohnya seperti: William James

·         Filsafat Analitik
Filsafat ini dikembangkan oleh bangsa-bangsa yang berbahasa inggris seperti Amerika, Australia, Selandia Baru, Skandinavia. Disebut juga dengan istilah filsafat Anglosaxon.
Tokoh-tokohnya seperti Wittgenstein, Karl Poper yang terkenal dengan gagasannya mengenai falsifikasi. Pembuktian pada kebenaran jangan melalui jalur verifikasi tetapi melalui jalur falsifikasi, carilah alasan-alasan logis yang bisa menjatuhkan teori tersebut. Kalau tidak ada, berarti teori itu dapat dikatakan teori yang paling benar untuk masa itu. Kemungkinan selalu ada teori baru di hari depan.

      Sumber: Mata Kuliah Filsafat, Fakultas Filsafat UNPAR


Minggu, 28 April 2013

Aku Kata, Kata Aku



Aku Kata, Kata Aku
Aku....diciptakan oleh Sang Pencipta
Berawal dari ketidaksadaran dan ketidaktahuan
Kemanakah Ku harus melangkah...
Kehadiran mu dan diriku bukan suatu kebetulan...
Kita adalah pemeran dalam suatu sandiwara,..
Sandiwara kesedihan, tawa, sukacita, dan dendam
Jangan sia-siakan yang ada, kita bisa mengubahnya...
Bahkan mengubah alur ceritanya...itulah hidup




Aku Kata,
Aku adalah kata. Kata yang terwujud menjadi daging bernyawa. Awalnya pun aku adalah kata. Entah kata yang datang dari Sang Pencipta untuk menghadirkan aku dalam dunia ini. Entah kata yang datang dari kedua orang tua ku saat mereka memadu kasih. Entah kata yang datang dari dokter dan pekerja medis saat menarik aku keluar dan memaksa aku untuk menghirup nafas kehidupan. Entah kata dari siapa saja yang bertemu dengan diriku dan menjadikan diriku adalah kata yang hidup. Kata itu membuat aku menjadi hadir dan ada. Aku telah terkonsep lewat kata dan tak ada yang kebetulan - Kehadiran mu dan diriku bukan suatu kebetulan...
Kata Aku,
Aku pun berkata. Berkata untuk memberikan identitas. Berkata untuk mengkonsepkan siapa gelagat diriku. Berkata untuk membangun benteng argumentasi. Berkata untuk memukul lawan debatku.
Aku pun berkata. Dari perkataan ku lahirlah otoritas diriku. Otoritas untuk memimpin diri ku sendiri. Otoritas untuk menentukan diriku sebagai pemeran dalam sandiwara hidup ini.
Aku pun berkata. Bukan untuk menghafal dialog dalam sandiwara hidup. Bukan pula mengikuti alur yang ada. Kita adalah pemeran dalam suatu sandiwara,..

Aku pun berkata dengan maksud melawan naskah sandiwara hidup. Dengan maksud mencurigai kesedihan, tawa, sukacita dan dendam sebagai kenyataan yang terwujud dalam kata. Dengan maksud mempertanyakan darimana datangnya kata sedih, tawa, sukacita, dan dendam itu. Dengan maksud yang paling radikal yakni mengubah cerita pada alur hidup ini.

Aku Kata, Kata Aku
Melalui kata aku menjadi penguasa sekaligus pecundang....
sebab aku mengenal kedua kata itu.

Idealisme Jerman (Sebuah Pengantar Filsafat)

Batasan idealisme
·         Etimologis
Idealisme berasal dari kata Idea; Eidos yang berarti gagasan, hal-hal yang berkaitan dengan mental. Ide ini  juga melalui realitas mental. Oleh sebab itu ada sebutan ‘mentalisme’.
Dengan demikian secara etimologis, idealisme berarti pandangan yang menekankan realitas mental sebagai realitas yang ada. Dengan kata lain: realitas mental adalah dasar dari realitas yang nyata.
·         Substansial
Idealisme berarti studi kritis/pemikiran filsafati yang menyatakan bahwa realitas yang benar adalah realitas mental. Dengan kata lain, satu-satunya realitas yang sah adalah realitas yang berdasarkan akal budi, selain itu dapat pula dikatakan idealisme merupakan pemikiran filsafat yang menyakini bahwa realitas yang sejati berawal dari realitas mental atau pemikiran filsafat yang menyakini bahwa kebenaran berasal dari subyek (asal-muasal kebenaran itu subyek). Dengan demikian dapat dikatakan kebenaran adalah pengetahuan yang sah dan pengetahuan yang sah adalah realitas yang benar.

Sejarah singkat
Idealisme klasik bermula dari Plato, namun filsafat Plato belum dapat disebut sebagai idealisme karena filsafat Plato masih tercampur-baur dengan 2 konsep filsafatnya yakni rasionalisme dan realisme. 
Idealisme Plato menyatakan bahwa realitas itu berasal dari dunia ide. Sementara makna ide menurut Plato berbeda dengan definisi ide pada idealisme. Perbedaan makna itu terletak pada:
·         Ide Plato disebut pula struktur ontologis, ide ada di dunia ide dan realitas konkret sebenarnya adalah bayangan, tiruan dari dunia ide. (struktur ontologis ialah dasar yang menyebabkan Ada)
·         Ide pada idealisme berarti bahwa kebenaran ada pada kita, ada pada subyek, ide tidak terpengaruh pada dunia di luar subyek.
Bagi Plato, ide itu seperti being-in-itself yang menjadi dasar dari being-for-itself. Pada tahap berikutnya, filasafat dari Immanuel Kant menyebut being-in-itself sebagai Noumena dan being-for-itself sebagai Fenomena. Fenomena tidak pernah ada tanpa noumena, kita sendiri pun tidak bisa tahu apa noumenanya, yang dapat kita ketahui hanya bayangannya/fenomennya/being-for-itself.  Dengan demikian ide Plato tidak dapat disamakan dengan ide yang ada pada otak kita (ide menurut idealisme), dan ide Plato itu tidak pernah bisa diketahui.

Idealisme sebagai aliran filsafat
Leibniz mulai memomulerkan aliran filafat-idealisme ini pada abad ke-18. Bagi Leibniz, ada realitas nyata yang bergantung pada mental. Pengetahuan sejati ialah pengetahuan mental atau aktifitas kegiatan mental. Realitas eksternal bergantung pada si subyek, tanpa si subyek tidak akan ada realitas mental. 
Setelah Leibniz, idealisme berkembang dalam gerakan baru yakni Idealisme Jerman.

Idealisme Jerman
Idealisme Jerman ialah gerakan intelektual dan budaya yang berlangsung selama 40 tahun (1790-1830). Gerakan pemikiran ini merambah bidang filsafat dan teologis. Gerakan ini sekaligus merupakan reaksi dari munculnya gerakan pencerahan (enlightment movement) yang dipelopori oleh Immanuel Kant (1724-1804) dengan kata-katanya yang terkenal ‘Sapere Audere’ yang berarti beranilah berpikir.
Kekuatan akal budi diterima secara baik di Jerman. Disebut idealisme Jerman karena kenyataan/realitas itu identik dengan ide, gerakan ini sekaligus ingin merombak idealisme Plato. Apa yang disebut bayangan pada Plato itulah yang disebut IDE pada idealisme Jerman. Bayangan (Plato) adalah realitas yang nyata dan juga IDE itu sendiri. Bagi idealisme Jerman, rasio itu dasar/primordial mutlak dari kenyataan/realitas. Gerakan idealisme Jerman juga merupakan gerakan ketakbergantungan rasio pada realitas dan termasuk gerakan dominasi akal atas sensasi, ilmu-imu fisika, dan teologi natural.
Idealisme Jerman terbagi atas  empat jenis yakni idealisme transendental, idealisme subyektif, idealisme obyektif, dan idealisme absolut.

1.      Idealisme Transendental
Tokohnya ialah Immanuel Kant (1724-1804)
Dasar pemikiran Kant berangkat dari persoalan being yang telah disinggung Parmenides. Bagi Parmenides, being itu tetap dan sudah jelas. Berbeda dengan Heraklitus yang menyatakan bahwa being itu berubah, tidak tetap. Bagi Kant, being itu tidak jelas, tidak kelihatan dan dicerap indera.
Pengertian transendental berbeda dengan istilah transenden. Transenden berarti hubunga/relasi pada yang trans, pada yang luhur, berada jauh dari si subyek. Lawan dari transenden ialah imanen, yang berada dalam diri, ada di dalam subyek. Dengan demikian, transendental merupakan perpaduan antara yang jauh dengan yang dekat, menyatukan keduanya atau sintesis (perpaduan) antara konsep transenden dan konsep imanen. Tidak berarti transenden dan tidak pula berarti imanen. Sintesis ini dihasilkan melalui Pengujian Kritis Rasio.
Bagi Kant, apa yang disebut imanen adalah apa yang berada pada dunia dan transenden adalah apa yang berada pada si subyek. Filsafat Kant juga menjembatani dua aliran filsafat sebelumnya yakni rasionalisme (tokoh: Rene Descartes) dan empirisme (tokoh: David Hume). Dalam pemikiran Kant, subyek (rasionalisme) persisnya seperti intuisi,  intuisi murni yang adalah hal-hal apriori. Contoh intuisi murni yakni ruang dan waktu. Kita tidak dapat merasakan ruang dan waktu namun kita mengalaminya. Sementara, dunia (empirisme) adalah hal-hal obyektif yang kita alami. Dengan demikian, interaksi terjadi antara subyek yang mengeluarkan sesuatu dan dunia yang menawarkan sesuatu. Istilah being pun menjadi transendental being sebab menjembatani unsur-unsur apriori dan unsur-unsur aposteriori.
Kant beranggapan bahwa ada 3 tahap dalam proses pengetahuan murni yakni:
·         Pengalaman indrawi    : pengalaman yang langsung dicerap oleh indra (Verstand).
·         Akal                            : akal memberi gambaran-gambaran, mulai mengkategorikan (Vernung).
·         Rasio/Budi                  : mulai untuk mengambil kesimpulan.
Melalui tiga tahap ini dapat diperoleh pengetahuan murni. Idealisme transendental disebut pula idealisme kritis sebab dalam pengambilan kesimpulan, rasio melakukan autokritik (mengkritik dirinya sendiri agar penilaian menjadi murni) dan menyampingkan segala kencendrungan subyektif seperti minat, bakat, selera dsb. Metodenya disebut sintetik apriori.


2.      Idealisme Subyektif
Tokoh: Fichte (1762-1814)
Fichte adalah filsuf pertama yang mengembangkan serta mengenalkan istilah ‘dialektika’ (mengenalkan unsur tesis dan antitesis). Bagi Fichte, pemikiran idealisme subyektif ini berangkat dari tesis dan antitesis. Ego adalah tesis dan Non-Ego itu adalah antitesis sehingga sintesisnya ialah Ego Absolut.

Pemikiran umum
Ego itu adalah subyek sekaligus tesis sementara antitesisnya adalah dunia eksternal. Segala yang berada di luar Ego dan segala sesuatu yang bukan SAYA  adalah Non-Ego. Ego menampakkan diri dan dikenal oleh dunia serta berhadapan dengan dunia. Konsekuensinya yakni Ego mengetahui dirinya karena berhadapan dengan yang bukan Ego (Non-Ego). Saya adalah saya, saya menjadi saya karena ada sesuatu yang bukan saya.
Ego yang telah menjadi Aku, atas konfirmasi dari Non-Ego itulah yang disebut Ego Absolut. Ego absolut menjadi dasar bagi knowing subject. Semua pengetahuan merupakan produk dari knowing subject. Selalu ada interaksi dari Ego dan Non-Ego untuk menjadi Ego absolut yang merupakan dasar bagi knowing subject. Ego menentukan dunia eksternal, dunia ada karena ada Aku. Aku menentukan dan mengkonfirmasi adanya sesuatu.

3.      Idealisme Objektif
Tokoh : Schelling (1775-1854)
Bagi Schelling, Ego (menurut pemahaman Fichte) pasti memerlukan Non-Ego. Sebab tidak ada subyek tanpa obyek dan sebaliknya, obyek tanpa subyek.  Kosekuensinya yakni IDE sama seperti dengan gambaran-gambaran mental. Ide yang berada pada subyek atau gambaran mental ini sama dengan obyek. Dengan demikian subyek adalah obyek itu sendiri. Subyek (the ideal) sama dengan obyek (the real). Apa yang ada nyata sama seperti apa yang ada di pikiran.
Berangkat dari pemikirannya, Schelling menyebut alam semesta/dunia eksternal ini dengan istilah intelegensi yang kelihatan. Ia menyebut Ego sebagai natura naturans dan Non-Ego sebagai natura naturata. Alam yang sama itu adalah alam yang diciptakan sekaligus alam yang menciptakan.
Dengan demikian ego itu ada di realitas dan obyektif, bukan ada pada subyek dan subyektif. Sementara subyek itu berada dalam obyek itu sendiri.

4.      Idealisme Absolut
Tokoh : G.W.F Hegel (1770-1831)
Immanuel Kant berakhir dengan kesimpulan dualisme-nya yakni noumena dan fenomena sementara filsafat Hegel ingin menyempurnakan filsafat Immanuel Kant. Titik tolak filsafat Hegel adalah kesimpulan dari filsafat Kant.
Bagi Hegel, Fichte terlalu menekankan peranan Ego (idealisme subyektif) sementara Schelling menekankan peran alam. Justru dua dasar ini dapat didialektikakan, antara alam dengan subyek dan menghasilkan realitas sejati sebagai sintesisnya.
Idealisme absolut ini hendak mengatasi idealisme subyektif dan idealisme obyektif dalam rangka menyempurnakan idealisme transendental. Disebut idealisme absolut karena berasal dari Ide Absolut/Roh Absolut. Roh absolut ini berdialektika sehingga menjadi tampak dan terlihat dari abstrak universal menuju konkret universal. Persisnya ada 3 tahap realisasi roh dari abstrak universal ke konkret universal, yakni:

·         Ketika roh berada dalam keadaan Ada dalam Dirinya Sendiri.
Roh yang berada dalam dirinya sendiri, ilmunya disebut Logika. Roh itu adalah Ada, Being berdialektika dengan Nothing sehingga menghasilkan tesis becoming. Apa yang noumena merupakan logika. Logika itu sesuatu yang tidak menambah kesimpulan sebab berasal dari dua premis, berasal dari dirinya sendiri. Namun pada saat yang sama yang ada dalam dirinya sendiri itu tidak ada. Being sama dengan nothing; ada tapi tidak ada. Ini yang disebut oleh Kant dengan istilah das Ding an sich (benda pada dirinya sendiri).

·         Being itu berbeda dengan dirinya sendiri
Roh itu berbeda dengan dirinya sendiri dan merealisasikan diri pada sesuatu yang bukan dari roh itu sendiri. Ilmu filsafatnya disebut filsafat alam atau kosmologi. Ide yang absolut keluar dari dirinya sendiri lalu masuk ke dalam alam spasial-temporal. Dengan begitu, alam itu penjelmaan dari roh  absolut dalam keadaan yang ada dan nyata. Penampakan yang ada itu bukan roh absolut, yang dapat diketahui yakni penjelmaanya barulah dari penjelmaanya ini dikenal roh absolut.



·         Roh absolut berada dalam dirinya dan bagi dirinya sendiri
Ilmu filsafat yang mempelajarinya adalah filsafat Roh. Being in itself sekaligus being for itself. Terbagi atas 3 tahap, yakni:

1.      Ada roh subyektif
Pada tingkat subyektif masih dibalut oleh alam, bersifat individual dan mulai berproses dari luar dirinya sendiri menuju dirinya. Roh ini merupakan bagian dari alam dan terjelma dalam manusia.

2.      Ada roh obyektif
Roh menjelma bukan pada individu melainkan pada komunitas kolektif sehingga muncul dalam moralitas, etika, dan hukum. Adanya lembaga, institusi, keluarga, massa, dan negara merupakan penjelmaannya.

3.      Ada roh absolut
Puncak penjelmaan roh itu adalah filsafat. Filsafat itu sintesis dari dialektika seni dan agama. Filsafat menyuguhkan apa yang riil sama dengan apa yang rasional (the real = the rational). Yang mutlak ada diamati dalam seni dan dipahami dalam agama berada pada filsafat. Ada pemikiran murni dan keduanya dipahami secara murni pula.

Geist (Roh absolut) merupakan sintesis dari Idea Plato dengan telos (tujuan) dari Aristoteles. Idea plato yang adalah roh absolut berdialektika terus-menerus hingga sesuai dengan telos.

Implikasi dari Idealisme
·         Idealisme itu berbicara tentang tujuan semesta, semesta memiliki tujuan. Tafsiran ilmu empiris dianggap terbatas. Bagi idealisme, ilmu empiris hanya merupakan data-data konkret, tidak memercayai adanya Roh yang mendasari gerakan ini.
   Bagi idealisme, Tuhan itu hanya sebatas jaminan eksistensi dunia sehingga tak ada relasi manusia dengan Tuhan. Segala yang berkaitan dengan rohani seperti doa-doa, kegiatan spritual dsb tidak mendapat perhatian khusus. Eksistensi Tuhan tetap diakui hanya saja berfungsi sebagai penjamin eksistensi, tidak ada relasi khusus.
   Idealisme memberi landasan moral yang objektif, karena manusia digerakkan sesuai dengan apa yang ada pada visi dan misinya. Visi ini pastilah visi roh obyektif. Menurut satu orang ini benar maka roh yang sama itu tidak akan menyangkal dirinya.

Catatan kritis bagi idealisme
  • ·      Kekuatan ide terletak pada penekanan pribadi manusia dan segi mental/segi spiritual. Sementara ada realitas yang non-material, yang mempunyai unsur-unsur non-material.
  • ·         Ide cocok untuk orang-orang yang menyukai hal-hal spiritual.
  • ·         Idealisme ini terlalu abstrak dan kurang ilmiah.
  • ·       Alam yang adalah apa yang kita pikirkan sementara dalam kenyataannya ada hal-hal yang tidak masuk akal. Harusnya semua masuk akal karena berasal dari satu akal.
  • ·   Idealisme mencampuradukan gagasan dan kenyataan, apa yang riil dan apa yang rasional disama-ratakan.
  • ·       Geist (roh) adalah idea yang membiarkan hal-hal negatif sebagai proses menuju kesempurnaan. Dalam kasus kejahatan, idealisme menganggap kejahatan disahkan dan dianggap sebagai bagian menuju kebaikan (penyempurnaan realitas).

 Sumber:
 Mata Kuliah Pengantar Filsafat (Berbagai Aliran Filsafat), Fakultas Filsafat Unpar



Selasa, 05 Februari 2013

Pembelajaran Usia Dini

Batu pijak pertama untuk membangun karakter ialah pembelajaran. Pembelajaran yang bukan hanya dimulai sejak duduk di bangku sekolah, melainkan semenjak individu menjadi partisipan akif kehidupan.
Proses pembelajaran membentuk seseorang menjadi lebih manusiawi dan berujung pada hasil pribadi yang mandiri dan dewasa. Pembelajaran bukan soal daya eksplor diri untuk memperoleh pengetahuan sebanyak mungkin, juga bukan soal pertahanan argumen melalui pengetahuan terkait. Pembelajaran menggiring pengetahuan pada individu untuk diwujudkan secara konkret dalam kehidupan. Pembelajaran selalu berangkat dari hal yang paling sederhana. Individu memulainya dari masa dini atau kanak-kanak. Secara umum, beberapa hal yang menjadi ciri pembelajaran pada masa kanak-kanak diantaranya berkaitan soal kemampuan yang mencakup tiga hal: pengetahuan (know-what, knowledge), sikap (know-why, attitude), dan keterampilan (know-how, skill).
Anak  memiliki pengetahuan terbatas dan berbanding terbalik dengan daya kuriusitasnya. Hal ini ditandai dengan ekspresi kuriusitas yang tinggi dan pertanyaan-pertanyaan yang terkadang di luar nalar logis. Pengetahuan yang dimiliki masih amat terbatas, pengetahuan mengenai alam, sesama, dan bahkan dirinya sendiri. Selain pengetahuan, masa pembelajaran kanak-kanak berkaitan dengan sikap yang dibangun. Umumnya, kanak-kanak belum dapat menentukan sikap secara jelas. Kemampuan untuk mengkritisi berbagai hal masih dalam taraf pengenalan postif dan negatif dan cenderung untuk melakukan apa yang menjadi kesenangannya. Penanda lain pada pembelajaran dini terdapat pada kemampuan. Kemampuan individu pada masa kanak-kanak belum terkelompok secara jelas. Umumnya, individu hanya mengembangkan kemampuan secara umum seperti berlari, berteriak, memanjat, memukul, dan tindakan lainnya.
Sebelum memasuki masa pendidikan secara formal, kanak-kanak memperoleh pembelajarannya melalui pengalaman. Pengalaman dapat dikatakan sebagai pendidik pertama dan pengetahuan alami yang mengakar dalam individu. Sementara, orang tua, lingkungan, dan faktor eksternal lainnya hanya sebagai pendukung. Dalam pandangannya, Sokrates menegaskan bahwa faktor eksternal hanyalah bidan yang membantu ibu (kanak-kanak) untuk melahirkan bayi-kebenaran.[1] Benih pemahaman dan pengetahuan secara tak sadar memang sudah terkandung dalam diri si anak.
Perkembangan selanjutnya, pembelajaran dini ini membawa konsekuensi dalam kerangka menjadi manusia dewasa dan mandiri. Pembelajaran pada masa dewasa ditandai dengan pemberontakan dan gejala keraguan. Individu secara bebas menolak pendiktean dan pemaksaan kehendak dari apa pun yang berada di luar dirinya. Umumnya pula, individu dewasa selalu mencurigai, meragukan, dan bahkan tidak menerima begitu saja segala pengetahuan dan argumentasi di luar dirinya.
Pembentukan karakter individu dewasa sangat ditentukan oleh pembelajaran sejak dini. Pada dasarnya, benih pengetahuan sudah terkandung dalam rahim pikiran individu. Para pendidik sejati tidak serta merta mentransfer benih-benih tersebut, tetapi lebih dari itu, pendidik membantu individu untuk menemukan sendiri dan merasakan aura pengetahuan yang ia temukan sendiri.

Sumber Pustaka:
Harefa, Andrias. 2000. Menjadi Manusia Pembelajar (On Becoming A Learner). Jakarta:    Penerbit Kompas
Bertens, K. 1999. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius



[1] Sokrates (470-399 SM), filsuf Athena, guru dari Plato yang memperkenalkan metode maieutike tekhne (seni kebidanan). Metode ini hendak menyatakan bahwa Sokrates sendiri (dalam hal ini pengajar) tidak menyampaikan pengetahuan tetapi melalui pertanyaan-pertanyaannya, ia membidani pengetahuan yang terdapat dalam jiwa orang lain (Lih. K. Bertens:Sejarah Filsafat Yunani, hlm. 106).

Senin, 04 Februari 2013

Status dan Peran


Masyarakat merupakan kumpulan populasi manusia sebagai makhluk hidup sosial yang terorganisir dalam berperilaku guna mencapai tujuan bersama. Menurut Ralph Linton, masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.[1] Pada masyarakat pula terdapat struktur sosial yang mengutamakan prilaku dalam membentuk hubungan yang erat antarindividu dan kelompok. Status dan peran merupakan bagian dari elemen struktur sosial tersebut.
Dalam perkembangan lebih lanjut, setiap individu secara bertahap akan mengambil status dan menjalankan peran sesuai status yang diemban. Seperti dalam keseharian adanya profesi guru, pedagang, pendeta, nelayan, polisi dsb tidak semata-mata karena faktor tuntutan ekonomi tetapi secara sadar mereka mengambil peran dan menjalankan peran sesuai dengan status yang diemban. Status dan peran sangat berpengaruh dalam perkembangan masyarakat. Dapat dikatakan pula, salah satu penyebab terhambatnya perkembangan masyarakat adalah disfungsi peran individu maupun pranta-prata sosial. Bisa dibayangkan jika polisi tidak menjalankan peran sebagaimana mestinya, tentu tidak ada batas antara pelanggaran dengan ketaatan pada norma dan aturan. Bagaimanapun juga, status dan peran sangat memengaruhi sejauh mana tingkat perkembangan masyarakat.

Status dan peran dalam batasan sosiologis
Perlu dibedakan pula antara pengertian status dengan status sosial. Status lebih diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial sehubungan dengan orang-orang lain dalam kelompok tersebut. Sementara status sosial adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang-orang lain dalam arti lingkungan pergaulannya, hak-hak dan kewajibannya. Status sosial tidaklah semata-mata berarti kumpulan kedudukan seseorang dalam kelompok-kelompok yang berbeda, akan tetapi kedudukan-kedudukan sosial tersebut memengaruhi kedudukan orang tersebut dalam kelompok-kelompok sosial yang berbeda.
Menurut Ralph Linton, status mempunyai dua arti.[2] Secara abstrak, status berarti tempat seseorang dalam suatu pola tertentu. Dengan demikian, seseorang dikatakan mempunyai beberapa status, oleh karena seseorang biasa ikut serta dalam berbagai pola-pola kehidupan. Pengertian tersebut menunjukkan tempat sehubungan dengan kerangka masyarakat secara menyeluruh. Status Tuan A sebagai warga masyarakat bisa dikatakan sebagai kombinasi dari segenap statusnya sebagai guru, kepala keluarga, ketua RT, suami dari Nyonya B dan status-status lainnya.
A status, in the abstract, is a position in a particular pattern. It is thus quite correct to speak each individual participates in the expression of a number of patterns. However, unless the term is qualified in some way, the status of any individual means the sum total of all the statuses which he occupies. It represents his position with relation to the total society. Thus the status of Mr. Jones as a member of his community derives from a combination of all the statuses which he holds as a citizen, as an attorney, as a Mason, as a Methodist, as Mrs. Jones’s husband, and so on. [3]

Sementara, peran (role) merupakan aspek yang dinamis dari status. Di sini diandaikan bahwa seseorang yang telah melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan status yang ia emban berarti ia telah menjalankan suatu peran. Pembedaan antara status dan peranan adalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan padahal keduanya tak dapat dipisahkan oleh karena yang satu tergantung pada yang lain dan sebaliknya.
A role represents the dynamic aspect of a status. The individual is socially assigned to a status and occupies it with relation to other statuses. When he puts the rights and duties which constitute the status into effect, he is performing a role. Role and status are quite inseparable, and the distinction between them is of only academic interest. Thee are no roles without statuses or statuses without roles.[4]

Menurut Ralph Linton pula, peran memiliki dua arti. [5] Pertama, setiap orang memiliki berbagai peran yang berasal dari pola-pola pergaulan hidupnya dan hal itu sekaligus berarti bahwa peran tersebut menentukan apa yang diperbuatnya bagi masyarakat dan berbagai kesempatan yang diberikan oleh masyarakat kepadanya. Fungsi peran adalah mengatur perilaku seseorang dan juga bahwa peran menyebabkan seseorang pada batas-batas tertentu dapat meramalkan perbuatan-perbuatan orang lain, sehingga dengan demikian, setiap orang yang menjalankan peranan tertentu akan saling menyesuaikan satu dengan yang lainnya. Kedua, hubungan sosial dalam masyarakat merupakan hubungan antara peran sesama individu dalam masyarakat. Tentunya, peran-peran tersebut diatur oleh norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Peran lebih banyak menunjuk pada fungsi, penyesuaian diri dan sebagai suatu proses. Idealnya, seseorang menduduki status tertentu dalam masyarakat serta menjalankan peran tersebut secara optimal.

Disfungsi peran
Krisis multidimensi yang merambah di setiap bidang kehidupan berbangsa tidak hanya disebabkan oleh norma dan aturan yang tidak terwujud tetapi juga dari sudut pandang sosiologis, krisis yang berkepanjangan ini dapat disebabkan oleh disfungsi peran baik masyarakat maupun pranata-pranata sosial lainnya. Hal ini bermaksud untuk menunjukkan bahwa peran yang semestinya dilaksanakan tidak sesuai dengan status yang diemban. Status yang semestinya menjadi tempat terwujudnya peran tidak berlangsung secara optimal.
Kondisi dilematis yang terjadi saat ini diperparah dengan mental masyarakat mengenai status dan peran. Perolehan status hanya semata-mata sebagai syarat formalitas dan sarana untuk mencukupi kehidupan ekonomi. Sementara, peran yang semestinya dilakukan tidak terwujud. Batas antara mana yang menjadi kewajiban individu untuk menjalankan perannya dengan hasrat untuk memperoleh kemakmuran di bidang ekonomi sudah tidak jelas lagi. Hal ini dapat terlihat pada sikap reaktif ketimbang proaktif pada setiap bidang kehidupan. Tidak adanya respon positif terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi di masa depan dan cenderung untuk mengobati daripada mencegah.
Atmosfir seperti ini seakan telah menjadi produk dan brand bagi masyarkat Indonesia mengingat bahwa mental yang dikembangkan lebih pada soal yang penting gaya (status)dulu soal tindakan (peran) nanti. Padahal sebagaimana ditekankan di atas bahwa status dan peran tidak dapat dipisahkan mengingat keduanya tidak dapat terwujud tanpa kehadiran yang satu. Dengan demikian, keadaan semacam ini tidak berujung pada penyelesaian yang kondusif tetapi malah menelurkan generasi-generasi bermental reaktif dan tidak memahami peran yang semestinya dilakukan.

Upaya mengatasi disfungsi peran
Sebagai upaya yang dapat diwujudkan secara sederhana, teori George Herbert Mead mengenai Generalized Other atau “orang lain pada umumnya”[6] dapat membantu persoalan perwujudan status dan peran. Dalam teorinya, Mead beranggapan bahwa sebelum bertindak, manusia mengenakan arti-arti tertentu kepada dunianya sesuai dengan skema-skema interpretasi yang telah disampaikan kepadanya melalui proses-proses sosial. Baik kelakuan sendiri maupun kelakuan orang lain senantiasa disesuaikan dan diserasikan dengan arti-arti tertentu itu. Berbeda dengan reaksi binatang yang bersifat instingtif dan langsung. Kelakuan manusia diawali dengan proses-proses pengertian dan penafsiran karena bercorak tak langsung.
Sehubungan dengan proses-proses ini yang mengawali perilaku manusia, konsep pengambilan peran (role taking) sangat penting. Maksudnya, sebelum seseorang bertindak, ia membayangkan dirinya pada posisi orang lain dan mencoba untuk memahami apa yang diharapkan oleh pihak itu dari subjek-subjek tertentu. Hanya dengan menyerasikan diri interaksi dapat terwujud. Sebagai contoh, sebelum bertindak sebagai seorang polisi, orang yang bersangkutan harus mengambil alih peran polisi itu dari orang-orang lain (imitasi). Dengan begitu, pola kelakuannya diserasikan dengan apa yang diandaikan oleh masyarakat menjadi kelakuan polisi.
Semakin orang mengambil alih atau membatinkan peranan-peranan sosial, semakin terbentuk pula identitasnya. Proses pengambilan peranan-peranan yang berhubungan erat dengan pembentukan diri berujung pada rasa memiliki suatu gambaran tentang generalized other, yaitu “orang lain pada umumnya”. Dengan demikian peran yang awalnya berasal dari tuntutan publik menjadi tanggung jawab moral yang harus dilakukan.
Status dan peran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebagaimana interaksi yang dibangun tidak terlepas dari keberadaan status dan peran seseorang.  Dalam pengembangan selanjutnya, interkasi antaranggota maupun kelompok menjadi tolok ukur keintiman sebuah kelompok atau kesatuan sosial. Interaksi tersebut dapat terjalin jika masing-masing anggota saling mengadakan kontak sosial dan komunikasi yang baik. Kontak sosial tidak semata-mata bergantung dari tindakan tetapi juga tanggapan terhadap suatu tindakan tertentu. Baik kontak sosial maupun komunikasi sosial, keduanya bergantung dari peran yang dimainkan dari setiap individu dan pranata-pranata sosial di dalamnya.

Sumber Pustaka
Kartasasmita, Pius Suratman. 2010. Modul Kuliah Sosiologi. —
Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi, Suatu Pengantar. Jakarta: CV. Rajawali.
Soemardjan, Selo dan Soelaman Soemardi. 1964. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta:   Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.
Veeger, K.J..1985. Realitas Sosial, refleksi sosial atas hubungan individu-masyarakat dalam cakrawala sejarah sosiologi. Jakarta: PT Gramedia.



[1] Soerjono Soekanto, Sosiologi, Suatu Pengantar (Jakarta: CV. Rajawali,1982) hlm. 22.
[2] Ibid., hlm. 234.
[3] Selo Soemardjan-Soelaeman Soemardi, Setangkai Bunga Sosiologi (Jakarta:-,1964) hlm. 261.
[4] Ibid.
[5]Soerjono Soekanto,Op. Cit.hlm. 238.
[6] K.J. Veeger, Realitas Sosial,(Jakarta: PT Gramedia,1985) hlm. 223.